Rakyat Timor-Leste Berkabung Francisco Guterres Meninggal

METROINDONEWS.COM, DILI – Berita duka menyelimuti, mantan Presiden Timor-Leste Francisco Guterres Lú-Olo wafat. Tidak hanya meninggalkan duka nasional. Namun mengingatkan kembali perjalanan panjang perjuangan kemerdekaan negara tersebut.

Pemerintah menetapkan masa berkabung selama tujuh hari dan memerintahkan pengibaran bendera setengah tiang. Untuk memberikan penghormatan terakhir kepada tokoh perlawanan sekaligus mantan kepala negara tersebut.

Guterres meninggal dunia dalam usia 71 tahun ketika menjalani perawatan intensif di Prince Court Medical Center, Kuala Lumpur Malaysia, Minggu (21/6). Penyebab penyakit yang dideritanya belum diumumkan kepada publik.

Pemerintah Timor-Leste menetapkan masa berkabung nasional mulai Senin (22/6) menjelang sore hingga Minggu (28/6) tengah malam. Ketetapan itu diberlakukan di seluruh wilayah negara. Termasuk pada gedung pemerintahan serta perwakilan diplomatik di luar negeri.

Sementara masa berkabung nasional telah diumumkan di seluruh negeri. Tak lain sebagai tanda duka cita atas meninggalnya Dr. Francisco Guterres Lú Olo, mantan Presiden Republik Demokratik Timor-Leste,” demikian isi ketetapan pemerintah, dikutif dari CNN Indonesia, Senin, (22/6)
Pemerintah juga menjelaskan batas waktu pelaksanaan penghormatan nasional tersebut.

“Sehingga masa berkabung nasional dimulai pukul 15.00 pada tanggal 22 Juni dan berakhir tengah malam pada tanggal 28 Juni.”
Dimana selama masa berkabung, bendera nasional diperintahkan berkibar setengah tiang di seluruh gedung publik. Termasuk kedutaan besar, konsulat, kantor perwakilan negara di luar negeri, dan kapal milik pemerintah.

Presiden Timor-Leste José Ramos-Horta mengatakan kepergian Guterres sebagai kehilangan besar bagi negara. Dia sebelumnya sempat mengunjungi Guterres ketika menjalani perawatan di Malaysia.

“Saya menerima kabar ini dengan kesedihan yang mendalam dan menganggap kepergian Presiden Francisco Guterres Luolo. Merupakan kehilangan besar bagi bangsa,” kata Ramos-Horta dalam keterangan resminya.

Ketika menjenguk Guterres, Ramos-Horta tidak menyampaikan secara terperinci penyakit yang diderita mantan presiden tersebut. Dia ketika itu hanya menyebut kondisi Guterres “kritis.”

Ramos-Horta mengenang Guterres sebagai patriot dan salah satu pemimpin utama perjuangan pembebasan Timor-Leste. Guterres juga pernah memimpin Front Revolusioner untuk Timor-Leste Merdeka (Fretilin). Disamping, menduduki sejumlah jabatan tertinggi dalam pemerintahan.

Diketahui, Guterres lahir di Ossu pada 7 September 1954 lalu. Perjalanan politiknya berkaitan erat dengan gerakan nasionalisme dan perjuangan kemerdekaan. Sejak Timor-Leste masih berada di bawah pemerintahan kolonial Portugis.

Setelah deklarasi kemerdekaan pada 1975, Guterres bergabung dengan kelompok perlawanan dan menjalankan sejumlah peran kepemimpinan dalam perjuangan pembebasan nasional.

Selepas referendum 1999, dia terpilih sebagai anggota sekaligus pemimpin Majelis Konstituante. Lembaga tersebut bertugas menyusun konstitusi bagi negara yang kemudian memperoleh pengakuan kemerdekaan penuh pada tahun 2002.

Guterres selanjutnya menjadi Presiden pertama Parlemen Nasional Timor-Leste dan menjalankan jabatan tersebut pada 2002–2007. Dia kemudian terpilih sebagai Presiden Timor-Leste pada 2017 dan memimpin hingga 2022.
Tentu saja masa berkabung nasional menjadi bentuk penghormatan negara terhadap pengabdian Guterres dalam perjuangan kemerdekaan.

(BB/SP/FRANS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250