METROINDONEWS.COM, Benar demi keadilan, Eks Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Tiyo Ardianto, menemukan alat pelacak bernama PBX Finder. Terpasang secara sembunyi-sembunyi di bawah rangka mobil yang dia pinjam dari saudaranya. Penemuan tersebut terjadi tak lama setelah Tiyo berpartisipasi dalam demonstrasi mahasiswa dan gerakan sipil di Gejayan Yogyakarta, Sabtu (13/6) lalu.
Menanggapi hal tersebut Tiyo yang kini menempuh studi S1 Filsafat di UGM, mengungka, dia baru menyadari adanya ancaman pengawasan. Ketika mendapat notifikasi dari aplikasi pelacak yang terhubung dengan perangkat tersebut. “Saya tidak mengetahui siapa yang pasang, tapi jelas ini bukan kebetulan,” ucapnya dalam unggahan Instagram.
Setelah menemukan alat itu, Tiyo mengikuti saran rekan-rekannya untuk merendam perangkat ke dalam air tindakan yang diyakini dapat menonaktifkan sistem pelacakan elektronik.
Selanjutnya dia kemudian melaporkan kejadian ini kepada sejumlah aktivis dan kawan di lingkaran mahasiswa. Tak lama berselang, Tiyo menerima laporan bahwa puluhan rekan di BEM UGM juga menerima serangan pesan teks dari nomor tak dikenal. Tentu saja hal tersebut diduga bagian dari kampanye intimidasi yang terkoordinasi.
“Kami bukan kriminal dan kami bukan penjahat”. Mengingat, kami hanya berani mengkritik kebijakan yang merugikan rakyat,” sebutnya.
Dia telah menyoroti bagaimana kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan kasus bunuh diri anak di NTT yang pernah disampaikan secara terbukti. Hingga kini direspons bukan dengan dialog, tapi dengan pengawasan dan teror.
Tiyo menggambarkan kritik sebagai bentuk cinta tanpa syarat terhadap bangsa. “Kita beri obat untuk penyakit pemerintah, tapi justru diminta diam atau lebih buruk lagi, diracuni.
Lantas dia menilai tindakan pelacakan dan intimidasi ini bukan sekadar personal. Justru bagian dari pola sistemik yang semakin mengancam ruang demokrasi di kalangan generasi muda.
Kasus ini memperkuat kekhawatiran yang sudah lama diungkapkan aktivis hak asasi manusia: bahwa suara kritis mahasiswa dan masyarakat sipil kini dianggap sebagai ancaman. Bukan sebagai sarana perbaikan. Dimana belum ada pihak resmi yang mengakui keterlibatan dalam pelacakan tersebut. Kendati demikian Tiyo dengan tegas mengatakan bahwa dia akan terus mendorong transparansi dan penegakan hukum.
“Jika kita diam karena takut, maka yang menang bukan kebenaran tapi kekuasaan yang takut pada kebenaran.
(SN/ID)














