Amran Lapor Polisi, Harga TBS Anjlok Permainan Kotor Mafia Sawit

METROINDONEWS.COM, JAKARTA – Menerbos jaringan terselubung, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam. Terhadap perusahaan sawit yang belum mengembalikan harga Tandan Buah Segar (TBS) sesuai ketentuan.

“Sementara d.ari sekitar 1.900 perusahaan yang dipantau, masih terdapat sekitar 270-300 perusahaan yang belum menyesuaikan harga”. Meskipun setelah sebelumnya terjadi penurunan di tingkat petani. Perlu diketahui, penurunan harga TBS sempat terjadi setelah diumumkannya mekanisme ekspor satu pintu melalui PT. Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena dinilai merugikan jutaan petani sawit. Sehingga kurang lebih 270-300 perusahaan yang belum menaikkan harga, dan kami akan kirim langsung ke Polda, ke Pak Kapolri, Pak Kapolda, dan kepada Dirkrimsus untuk ditindak lanjuti,” kata dia.

Tentu saja kita harus jaga petani kita. Ini ada 15 juta petani,” jelas Amran dalam konferensi pers di Kantor Kementan Jakarta, Senin (8/6). Lantas dia menilai, sebagian besar harga TBS sebenarnya mulai menunjukkan pemulihan. Hingga saat ini harga berada di kisaran Rp. 3.200 hingga Rp. 3.600 per kilogram

Semua bergantung pada wilayah masing-masing. Namun, dia meminta, harga tersebut. Harus kembali mengacu pada ketentuan yang ditetapkan dalam Peraturan Gubernur (Pergub) di setiap daerah.
Sangat bersyukur tadi laporan sudah 70 persen berangsur-angsur pulih. Mulai hari ini harus kembali menjadi 100 persen,” ucapnya.

Menurut Amran, penurunan harga TBS yang sempat terjadi tidak sejalan dengan kondisi pasar global. Pasalnya, harga minyak sawit mentah atau CPO justru sedang bergerak naik. Sehingga kemudian harga di tingkat petani semestinya ikut terdorong. Menjadi anomali, harusnya tidak terjadi (penurunan harga TBS),” sebutnya.

Maka dia berpandangan harga TBS seharusnya bisa meningkat lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dinilai menjadi peluang. Dalam meningkatkan daya saing ekspor komoditas pertanian, termasuk sawit.

“Bahkan harusnya naik 10 persen (harga TBS) daripada harga sebelumnya, mengingat masih ada selisih”. Nilai dolar sekarang Rp18 ribu (per dolar AS). Tentu seharusnya dijadikan momentum,sehingga kesempatan tersebut. Dimana sektor pertanian, kita gunakan dengan baik. Tahun lalu ekspor kita naik Rp167 triliun,” ungkapnya.

Sedangkan pada sisi lain, Aparat Penegak Hukum (APH) mulai mencium adanya dugaan permainan harga di balik anjloknya TBS. Kepala Satuan Tugas Pangan Polri Ade Safri Simanjuntak mengungkapkan adanya indikasi kartel yang menyebabkan harga TBS turun ketika harga CPO dunia justru sedang meningkat.

“Terkait dengan fenomena pembelian TBS dengan harga yang tidak wajar di saat harga CPO di dunia naik”. Dalam persoalan tersebut, lanjut dia, menduga adanya indikasi kartel di sini atau persekongkolan jahat bermain. Merupakan bentuk persekongkolan diam-diam yang dilakukan untuk menyepakati harga TBS turun di saat harga CPO di dunia tidak turun,” beber Ade dalam kesempatan yang sama.

Untuk menelusuri dugaan permainan harga, Satgas Pangan Polri akan melakukan penyelidikan lebih lanjut. Langkah itu juga akan melibatkan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Sangat bergunan untuk mendalami kemungkinan praktik kartel di sektor sawit.

Dengan demikian maka kami akan menggandeng KPPU untuk melakukan penyelidikan terkait dengan dugaan keterlibatan kartel.
Sebagai komitmen,  kita tidak segan-segan untuk memberi tindakan hukum secara tegas,” tandas Ade.

(ANT/VO)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250