METROINDONEWS.COM, LAMPUNG SELATAN – Semua harus transparan, dalam hal tersebut langsung dikonfirmasikan kepada Kepala SMKN 1 Bakauheni Lampung Selatan, Sukijo,S.Pd.,M.Pd., menyangkut sejumlah mata kegiatan yang menggunakan anggaran Biaya Operasional Sekolah (BOS). Meliputi anggaran penerimaan peserta Didik Baru TW I dan TW II Rp :11.280.000, dalam e- RKAS dua kali dua kali dianggarkan.
Selanjutnya, tidak ada papan laporan yang update tentang penggunaan dana Biaya Operasional Sekolah (BOS).
Pihak sekolah melakukan pengembangan perpustakaan Rp:133.280.000,- di tahap I dan II tahun 2025, pertanyaannya apa saja yang telah dibelanjakan oleh sekolah dengan anggaran tersebut.
Terkait jumlah siswa kenapa ada yang sangat mencolok diduga ada jumlah siswa yang hilang dari tahun ke tahun mohon dijelaskan mengingat anggaran tahun 2025 Rp. 1.324.800.000.
Turut diduga terjadi adanya uang pungutan dalam kegiatan wisuda kepada siswa atas dasar apa hal tersebut dilakukan.
Dimana hal yang sama juga terjadi pada kegiatan pengadaan buku perpustakaan mulai tahun 2021 hingga 2025 berapa banyak jumlah buku yang dibeli dalam 4 tahun tersebut.
Diperoleh adanya laporan yang masuk pihak sekolah diduga menerima fee, untuk semua mata jenis kegiatan dari pihak rekanan, sejauh mana kebenarannya hal tersebut.
Kemudian pihak sekolah melakukan administrasi kegiatan pendidikan sebesar Rp. 309.925.500,- ditahap I dan II ditahun 2025. Besaran jumlah anggaran cukup besar maka apa saja bentuk kegiatannya?
Anggaran sarana prasarana di TW I dan II tahun 2025 Rp. 243.001 509,- apa saja yang dikerjakan oleh pihak sekolah, beserta masalah pembayaran honorarium Rp. 264.390.000, dibutuhkan penjelasan dalam hal tersebut.
Kepala SMKN 1 Bakauheni
Sukijo melalui pesan WhatsApp memberikan jawaban: “nanti saya lagi ada kegiatan ke DU/Di…nanti saya pahami dulu dan komunikasikan dgn team”. Namun berselang beberapa lama jawaban atau klarifikasi susulan dari Kepsek tak kunjung di berikan penjelasan?
Pemerhati Pendidilkan dan Kebijakan Publik, Fitra Harry, turut berkomentar, sepanjang awak media mempertanyakan masalah penggunaan uang negara terhadap pihak pengguna. Tak perlu sungkan, apa lagi takut untuk memberikan penjelasan karena penggunaan dana tersebut harus transparan dan terbuka bagi publik yang membutuhkan informasi,” ungkapnya, Kamis (13/8) siang.
“Banyak sisi dapat kita jaga, lanjut Fitra, dengan memberikan penjelasan secara utuh terkait penggunaan anggaran negara”. Salah satunya agar tidak terjadi berbagai spekulasi publik yang malah merugikan pihak sekolah. Sehingga ketika tersajinya sebuah berita pokok bahasannya dapat berimbang,” tandasnya.
(BA/SW)














