METROINDONEWS.COM, JAKARTA – Korban terus bertambah, Komisi IX DPR meminta BGN membentuk Satgas MBG yang melibatkan BPOM, pemda, dinas kesehatan, sekolah, dan orang tua. Menyusul dugaan keracunan ratusan santri di Sidoarjo dan sejumlah daerah lain.
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini meminta Badan Gizi Nasional (BGN) memperketat pengawasan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Usai ratusan santri di Pondok Pesantren Manbaul Hikam Tanggulangin Sidoarjo, diduga keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Yahya, dibutuhkan pembentukan Satuan Tugas (Satgas) khusus untuk melakukan pengawasan secara berkala.
Dia meminta BGN meningkatkan pengawasan secara berkala dan presisi terhadap setiap dapur. Dengan membentuk Satgas MBG yang melibatkan BPOM, pemerintah daerah, dinas kesehatan, kepala sekolah, dan orang tua murid,” kata Yahya kepada wartawan, yang dikutif Saptu (5/9).
“Bila saja masih terjadi kasus keracunan menunjukkan masih lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh BGN”. Monitoring perlu dilakukan setiap minggu terhadap seluruh kepala dapur,” ujarnya.
Yahya mengaku prihatin dengan masih terjadinya kasus keracunan MBG, seraya mengatakan monitoring harus dilakukan secara rutin terhadap seluruh dapur MBG.
Lanjut dia, menyampaikan rasa prihatin yang mendalam atas terjadinya kasus keracunan di berbagai tempat yang meningkat akhir-akhir ini. Seperti khususnya yang terjadi di Sidoarjo, karena jumlahnya paling banyak.
Yahya meminta korban keracunan ditangani dengan baik. Selain itu biaya pengobatan harus ditanggung BGN.
Yahya menilai keterlibatan berbagai pihak diperlukan untuk memastikan pengawasan terhadap pelaksanaan MBG berjalan lebih menyeluruh. Menurutnya, kasus keracunan yang masih terjadi menunjukkan masih lemahnya pengawasan terhadap dapur MBG.
Dalam hal tersebut, dia meminta BGN melakukan investigasi secara tuntas dan terbuka untuk mengetahui penyebab kasus keracunan. Sekaligus membenahi tata kelola secara detail dan terperinci.
Kendati demikian, politikus Partai Golkar ini menghargai tindakan tegas BGN yang menutup sementara dapur bermasalah. Namun perlu menekankan evaluasi menyeluruh tetap harus dilakukan.
Tindakan tegas tersebut perlu diikuti dengan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola, pengawasan, dan SDM pengelola dapur,” sebutnya.
Tentu saja dia turut meminta BGN meningkatkan kapasitas kepala dapur SPPG. Sebagian besar kasus keracunan terjadi akibat kelalaian pengelolaan makanan yang menjadi tanggung jawab kepala dapur.
“Terkait dengan masalah tersebut, dirinya meminta BGN melakukan peningkatan kapasitas kepala dapur. Supaya dapat lebih profesional, berintegritas, serta penuh kedisiplinan,” pungkasnya.
Perlu untuk diketahui, ratusan santri di Pondok Pesantren Manbaul Hikam Tanggulangin, Sidoarjo, diduga keracunan. Setelah menyantap menu MBG. BGN menyebut jumlah santri yang keracunan mencapai 512 orang.
Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional (BGN) Ketut Sumedana menjelaskan penyebab ratusan santri tersebut keracunan setelah menyantap menu MBG. Terdapat kelalaian pada Standard Operating Procedure (SOP) pendistribusian MBG.
Hal itu terjadi akibat karena ketidakdisiplinan SPPG dan pendistribusian. Karena seharusnya loading selesai 4 jam dari waktu masak dan langsung dibagikan. Namun, faktanya di lapangan lebih dari 4 jam,” ungkap Ketut kepada wartawan, beberapa waktu lalu.
Mengingat, MBG ini kan tidak pakai pengawet. Tentu saja mudah basi dan bakterinya cepat berkembang,” simpulnya.
(DET/TR)














