METROINDONEWS.COM, BANDUNG – Dikenal melalui prestasi, Bandung kembali menjadi titik temu para pemanjat tebing terbaik Indonesia. Lebih dari 200 atlet dari berbagai daerah ambil bagian. Dalam EIGER Independence Sport Climbing Competition (EISCC) ke-17 yang digelar di EIGER Adventure Flagship Store, Jalan Sumatera, Kota Bandung, dikutif pada Senin (17/8).
Kompetisi yang rutin digelar bertepatan dengan momentum Hari Kemerdekaan ini semakin istimewa. Tentu saja karena menghadirkan sejumlah atlet yang telah menorehkan prestasi di panggung dunia.
Salah satunya Putra Tri Ramadani atau Srondeng, yang pada Juni 2026 meraih medali emas nomor lead pada World Climbing Series di Prague. Prestasi tersebut membuat Srondeng menjadi salah satu atlet Indonesia yang mampu bersaing langsung dengan jajaran pemanjat dunia.
Di EISCC ke-17, Srondeng kembali tampil di nomor Lead bersama sejumlah atlet nasional papan atas, di antaranya Alma Ariella, Sukma Lintang, Raji’ah Sallsabillah, Rahmad Adi, dan Raharjati Nursamsa.
“Sementara kehadiran para atlet elite tersebut”. Dapat sekaligus memperlihatkan perkembangan panjat tebing Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir semakin kompetitif di tingkat internasional.
Ketua Pelaksana EISCC 2026, Nara Witaraga, mengungkapkan konsistensi penyelenggaraan hingga edisi ke-17. Merupakan bagian dari komitmen EIGER dalam membangun ekosistem panjat tebing di Indonesia.
Menurut dia, EISCC tidak hanya dimaksudkan sebagai arena pertandingan. Tetapi juga ruang bagi atlet untuk berkembang, berlatih dan membangun mental kompetisi.
Maka kita merespons dengan komitmen. Sebab kita menjadi fasilitator agar atlet bisa bertumbuh dan berkembang, sekaligus menjadi arena latihan mental,” kata Nara.
Perkembangan panjat tebing, lanjut dia, kini tidak hanya terlihat dari prestasi atlet profesional. Minat masyarakat dan komunitas terhadap olahraga tersebut juga semakin luas.
Hal tersebut terlihat dari peserta EISCC tahun ini. Selain atlet profesional, kompetisi membuka ruang bagi komunitas, klub, dan sekolah panjat. Sampai dengan mahasiswa pencinta alam dari berbagai daerah.
“Tahun ini atlet nonprofesional pun datang dari lokasi yang jauh”. Komunitas panjat, klub panjat, bahkan sekolah-sekolah panjat dari banyak daerah mendaftarkan timnya.
Menurut Nara, untuk memperluas partisipasi, EISCC juga menghadirkan kategori Speed Rookie bagi mahasiswa pencinta alam, Spray Challenge untuk peserta non-atlet. Sedangkan Fun Boulder bagi masyarakat dan penonton,” sebutnya.
Total hadiah yang disiapkan dalam kompetisi tahun ini mencapai Rp133 juta.
Menurut Nara, perkembangan panjat tebing juga tidak hanya terjadi di level atlet prestasi. Olahraga ini mulai masuk ke ruang masyarakat umum sebagai alternatif aktivitas fisik.
Kondisi tersebut membuat ekosistem panjat tebing semakin luas, tidak hanya bergantung pada atlet profesional dan klub.
Nara mengatakan, EISCC mencoba menangkap perubahan tersebut dengan membuka kategori yang memungkinkan masyarakat yang bukan atlet tetap berpartisipasi.
“Ketika kami membuka kategori non-atlet, ternyata peminatnya datang dari berbagai daerah. Ini menunjukkan pertumbuhan dunia climbing sudah sangat luas,” terangnya.
Sementara menurut Mamay S. Salim, salah satu pendiri Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) sekaligus EIGER Adventure Technical Advisor, perjalanan tersebut. Berawal dari Ekspedisi Gunung Eiger 1986 yang digagas Harry Suliztiarto.
Ekspedisi tersebut kemudian menjadi salah satu tonggak perkembangan panjat tebing modern di Indonesia.
Dua tahun kemudian, pada 21 April 1988, berdiri Federasi Panjat Tebing dan Gunung Indonesia (FPTGI), yang kemudian berganti nama menjadi FPTI pada 1990.
Perjalanan itu berlanjut dengan lahirnya EIGER Adventure pada 1989 dan pembangunan fasilitas panjat. Lantas kemudian menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem olahraga tersebut.
Kehadiran atlet internasional, lanjut dia, akan meningkatkan kualitas kompetisi sekaligus membuka kesempatan bagi atlet Indonesia. Untuk menguji kemampuan menghadapi pemanjat dari negara-negara seperti Korea dan Jepang.
“Tentu saja ke depan harus meningkat”. Penyelenggaraannya bisa lebih representatif, lebih terbuka. Sehingga atlet Indonesia juga bisa semakin banyak mengukir prestasi di Asia,” pungkasnya.
(KG/RS)














