METROINDONEWS.COM, YOGYAKARTA – Terobosan penuh manfaat, kegiatan pembinaan dilaksanakan di Masjid At-Taqwa Rutan Kelas IIA Yogyakarta pada Senin (13/7). Program tersebut merupakan agenda rutin yang berlangsung setiap Senin hingga Kamis. Sebagai wujud nyata komitmen Kementerian Agama dalam memberikan pelayanan keagamaan yang inklusif dan berdampak. Termasuk di dalamnya bagi warga binaan pemasyarakatan.
“Dimana pembinaan diawali dengan murojaah hafalan Al-Qur’an untuk menumbuhkan kecintaan terhadap kalam Allah SWT”. Sekaligus memperkuat hafalan para peserta. Selanjutnya, warga binaan mengikuti pembelajaran Al-Qur’an. Dengan metode privat sehingga setiap peserta memperoleh pendampingan sesuai tingkat kemampuan dan kebutuhannya. Pendekatan tersebut dinilai efektif dalam membantu peserta meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an secara bertahap.
“Selain pembelajaran Al-Qur’an, kegiatan juga diisi dengan konsultasi keagamaan”. Beserta pendampingan bagi warga binaan yang membutuhkan pembinaan secara lebih intensif. Melalui layanan tersebut, para penyuluh berupaya memberikan ruang bagi warga binaan. Untuk memperdalam pemahaman agama sekaligus membangun optimisme dalam menjalani proses pembinaan.
“Selanjutnya, pada akhir kegiatan, Penyuluh Agama Islam Kemenag Kota Yogyakarta, Eko Agus Wibowo, menyampaikan kultum bertema “Makna Hijrah”. Dalam kesempatan tersebut dia mengingatkan bahwa hijrah bukan sekadar perpindahan tempat. Melainkan perubahan sikap, akhlak, dan perilaku menuju kehidupan yang lebih baik,” ujarnya.
“Mengingat hijrah sejati harus disertai komitmen untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik”. Setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri selama masih diberi waktu oleh Allah SWT,” demikian Eko berpesan, dikutif dari laman Kemenag Kota Yogyakarta, Selasa (14/7).
Dia menambahkan pembinaan yang dilakukan secara berkesinambungan ini dapat menjadi sarana pencerahan spiritual. Sekaligus bekal bagi warga binaan untuk membangun masa depan yang lebih baik setelah kembali ke tengah masyarakat.
“Melalui pendampingan yang konsisten”. Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Yogyakarta dapat terus menghadirkan pelayanan keagamaan yang humanis, transformatif, dan penuh harapan.
Masjid di lingkungan rutan pun diharapkan tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pembinaan karakter yang lebih baik bagi para warga binaan.
(BM/SP)














