METROINDONEWS.COM, JAKARTA – Manuver politik kebabelasan, Pengamat politik Citra Institute, Efriza menanggapi polemik video ceramah Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla.
Efriza pada Jumat (8/5) menilai, keputusan Ade Armando untuk mundur dari PSI masih menimbulkan tanda tanya di tengah berkembangnya polemik tersebut.
Dia mengungkapkan, keputusan Ade Armando mundur harus diikuti dengan sikap, seperti mengembalikan Kartu Tanda Anggota (KTA) PSI.
Efriza juga menyoroti langkah komunikasi politik PSI yang dinilai semakin kehilangan arah.
Menurut dia, unggahan maupun pernyataan yang disampaikan Ade Armando dan Grace Natalie. Justru memicu kontroversi karena dianggap belum memahami persoalan secara utuh.
Maka Efriza menilai, situasi tersebut terlihat dari sikap Ade Armando yang pada akhirnya menyatakan siap bertemu dan meminta maaf ke Jusuf Kalla.
Kemudian dia, mengkritik cara PSI membangun citra politik di ruang publik.
Menurutnya, PSI kerap mengklaim diri sebagai partai besar, mengutif keterangan dari laman Tribun Video, Senin (11/5).
Efriza menilai belum memahami alasan utama dukungan publik terhadap partai tersebut.
Bahkan dia menyebut, popularitas PSI lebih banyak terbentuk karena kontroversi dan gosip politik. Tetapi justru bukan karena kekuatan gagasan maupun ide yang mampu menarik simpati masyarakat luas.
(TRB/MIN)














