METROINDONEWS.COM, PAYAKUMBUH – Menjaga kultur budaya, Pemkot Payakumbuh terus memperkuat pelestarian adat. Sebagai fondasi pembentukan karakter generasi muda di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan arus globalisasi.
Asisten I Setdako Payakumbuh Nofriwandi menjelaskan pelestarian adat membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Tentu saja agar nilai-nilai luhur Minangkabau terus diwariskan kepada generasi penerus.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Adat Tingkat Kota Payakumbuh bertema “Rang Mudo Mengawal Peradaban”. Bersama rang mudo dan puti bungsu dari 10 nagari se-Kota Payakumbuh di Aula Gedung Serbaguna Sawah Padang Aua Kuniang, Kamis (9/7).
Semoga pelatihan ini menjadi langkah nyata dalam menjaga, merawat, dan mewariskan nilai-nilai adat kepada generasi penerus,” katanya.
“Dimana pelatihan tersebut menjadi ruang pembelajaran sekaligus penguatan nilai-nilai adat Minangkabau agar tetap hidup”. Sekaligus berkembang, dan mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Menurut Nofriwandi, falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah merupakan landasan utama kehidupan masyarakat Minangkabau yang tidak hanya menjadi identitas budaya. Tetapi juga pedoman dalam membentuk karakter, etika, dan kepribadian generasi muda.
Mengingat, kata dia, pelestarian budaya tidak cukup hanya menjaga kesenian maupun tradisi seremonial. Melainkan juga memastikan nilai-nilai adat tetap menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Nofriwandi menyebut Minangkabau memiliki pedoman etika melalui Kato Nan Ampek yang mengajarkan tata krama berkomunikasi sesuai dengan posisi dan usia lawan bicara.
“Kita harus memahami kapan menggunakan Kato Mandaki kepada yang lebih tua, Kato Manurun kepada yang lebih muda”. Sementara, Kato Mandata kepada sesama, dan Kato Malereng kepada tokoh yang dihormati. Jika etika komunikasi ini runtuh, maka salah satu jembatan persatuan masyarakat juga akan ikut runtuh,” sebutnya.
Selain itu, dia mengingatkan pentingnya mengamalkan nilai Sumbang Duo Baleh sebagai pedoman etika dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari cara duduk, berdiri, berjalan hingga bertutur kata. Kemudian nilai tersebut, menurutnya, menjadi benteng moral yang mampu membentuk generasi muda berkarakter di tengah perubahan zaman.
Kendati, lanjut dia, menjaga adat bukan berarti menolak kemajuan. Justru, masyarakat Minangkabau telah lama diajarkan untuk mampu beradaptasi terhadap perubahan tanpa kehilangan identitas budaya.
“Orang tua-tua kita telah mengingatkan melalui pepatah Sakali aia gadang, sakali tapian barubah”. Hari ini, perubahan itu hadir dalam bentuk digitalisasi, kecerdasan buatan, dan globalisasi. Untuk itu, kita harus mampu beradaptasi tanpa meninggalkan akar budaya,” ucapnya.
Nofriwandi menurutkan teknologi digital dan ekonomi kreatif harus dimanfaatkan sebagai sarana memperkenalkan adat, seni, dan budaya Minangkabau. Terhadap masyarakat yang lebih luas, termasuk generasi muda.
Sementara pelestarian adat hanya dapat berhasil apabila pemerintah, lembaga adat, bundo kanduang, tokoh masyarakat, dan generasi muda berjalan bersama.
“Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, lembaga adat tidak bisa bergerak sendiri, dan generasi muda tidak boleh menjadi penonton di tanahnya sendiri. Namun kita harus memegang teguh prinsip Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang. Saciok bak ayam, sadanciang bak basi. Melalui semangat kebersamaan itulah kita dapat mengangkat kembali marwah adat Minangkabau,” imbuhnya.
(ANT/VO)














