Srikandi Pendidikan SMAN 1 Purwakarta Donasikan Bantuan KDM untuk Anak Yatim

METROINDONEWS.COM, PURWAKARTA – Dia pantas disebut sosok Srikandi pendidikan, Syamsiah atau Bu Atun kembali menuai perhatian publik. Guru PKN di SMAN 1 Purwakarta itu memperlihatkan sisi lain kehidupannya yang sederhana dan penuh kepedulian sosial. Dimana usai bertemu Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Di tengah sorotan atas insiden dirinya menjadi bahan olokan sejumlah murid, Bu Atun justru menunjukkan keteladanan lewat gaya hidup bersahaja dan pandangan humanis terhadap pendidikan.

Ketika berbincang dengan Dedi Mulyadi, Bu Atun menuturkan sudah terbiasa berangkat mengajar menggunakan angkutan umum. Kebiasaan itu dipilih bukan sekadar soal transportasi. Tetapi sebagai cara merasakan langsung kehidupan masyarakat kecil.

Dia juga mengaku turut prihatin melihat pengemudi angkot yang kerap mengeluhkan minimnya penumpang. “Enggak (pakai motor), khawatir naik motor. Dan melatih merakyat juga. Artinya menjiwai seperti apa sih,” ujar Bu Atun.

Dedikasinya sebagai pendidik juga terlihat dari cara dia memandang murid-muridnya. Meski belum memiliki anak kandung, tetapi dia merasa seluruh siswa di sekolah merupakan bagian dari keluarganya sendiri.

“Banyak anaknya, di SMA 1,” ucapnya saat ditanya soal anak. Sikap itu juga yang membuat Bu Atun memilih merespons aksi kurang sopan sembilan siswanya dengan pengampunan. Menurutnya, tugas guru bukan hanya mengajar, tetapi juga membentuk akhlak.

“Saya sangat memaafkan, supaya mereka menjadi anak-anak yang berakhlak, memahami kesalahan,” ucapnya. Kisah Bu Atun semakin menyentuh ketika Dedi Mulyadi memberikan uang Rp. 25 juta sebagai bentuk apresiasi.

Namun bantuan itu tak dipakai untuk kepentingan pribadi. Bu Atun justru berencana menyalurkan seluruh dana tersebut kepada yayasan anak yatim yang selama ini diasuhnya di dekat rumah. “Saya niatkan niat baik bapak menjadi ganda. Sebanyak Rp. 25 juta akan saya sumbangkan kepada yayasan yatim yang saya bina,” sebutnya. Tak hanya memaafkan murid, Bu Atun juga mendukung langkah pembinaan berupa sanksi sosial membersihkan lingkungan sekolah. Tentu asalkan bertujuan mendidik dan dilandasi kasih sayang.

Kalau itu memungkinkan menjadikan anak-anak menjadi lebih baik kenapa tidak?… Menghukum itu bukan membenci, menghukum itu menyayangi,” pungkasnya, menguntif dari tvonenews.com.

Menurut Pemerhati Pendidikan dan Kebijakan Publik Ari Nurprinto, SH, MH., tepat di momen hari Kartini, sosok tersebut hadir. “Menjadi sosok pendidik yang memiliki hati dan jiwa dalam menyikapi apa yang menimpa dirinya, Jakarta, Kamis (23/4). Ari berharap sosok dan prilaku Bu Atun dapat menjadi tauladan bagi kita semua. “Kebaikan itu datang dari panggilan jiwa bukan keluar dari ucapan semata,” ucapnya singkat mengakhiri.

(TON/MIN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250