Londo Ireng Perisai Demokrasi, Ketua AJI: Pers Tak Boleh Jadi Alat Kekuasaan

METROINDONEWS.COM, JAKARTA – Tidak boleh berpihak, Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Nany Afrida mengingatkan sekaligus berefleksi. Mengenai titik mula AJI organisasi yang lahir dari sebuah keberanian. Menurut dia, keberanian untuk mengatakan bahwa pers tidak boleh menjadi alat kekuasaan. Selanjutnya jurnalis bukan corong pemerintah. 

“Kalau londo ireng dimaksudkan untuk mengatakan jurnalis adalah pengkhianat karena tidak mengikuti keinginan penguasa,”. Maka saya akan mengatakan: ya, kita londo ireng,” kata Nany dalam sambutan pada Malam Resepsi HUT ke-32 AJI di Hall Dewan Pers, dikutif pada Selasa (11/8).

Nany mengatakan jika label yang ditujukan kepada jurnalis, termasuk sebutan “londo ireng”, “tidak punya otak”, dan “kawanan sirkus”. Menurutnya, jurnalis tidak bekerja berdasarkan keinginan penguasa. Melainkan berdasarkan fakta, kepentingan publik dan kode etik jurnalistik.
“Kalau pertanyaan kritis disebut pengkhianatan, maka mungkin persoalannya bukan pada jurnalis yang bertanya,” ucapnya.

Nany menyinggung anggapan bahwa jurnalis tidak memiliki otak karena tetap bertahan di tengah berbagai risiko profesi. Karena setelah menghadapi tekanan, ancaman, kekerasan dan ketidakpastian ekonomi. Masih banyak jurnalis yang memilih bertahan dan menjalankan tugasnya.

“Kami tetap memilih jadi jurnalis”. Masih membuka laptop, masih memeriksa dokumen, masih menulis ketika menulis itu tidak selalu aman,” sebutnya.
Ketua AJI Indonesia itu menegaskan, keberanian dan integritas menjadi modal penting bagi jurnalis dalam mempertahankan profesinya. Kalau memilih profesi ini dianggap keadaan tidak punya otak, biarlah kami tidak punya otak. Tapi kami punya nurani, kami punya integritas, dan yang paling penting: kita punya keberanian,” tegas Nany.

Terkait sebutan “kawanan sirkus”, Nany menjelaskan AJI justru bangga dengan solidaritas antarsesama jurnalis. Sebab, organisasi profesi dibutuhkan agar jurnalis tidak menghadapi intimidasi, kekerasan maupun kriminalisasi seorang diri.

Dimana kami memang berkumpul, dan kami berkumpul ketika seorang jurnalis diserang. “Kami berkumpul ketika media diintimidasi”. Kami berkumpul ketika seorang jurnalis menghadapi kriminalisasi,” ungkapnya.

Lanjut Nany, solidaritas tersebut menjadi kekuatan jurnalis dalam menghadapi tekanan. “Kalau solidaritas dianggap sebagai kawanan, maka ya, kami ini kawanan”. Kawanan yang berdiri ketika salah satu anggotanya jatuh. Kawanan yang tidak akan pernah meninggalkan siapa pun sendirian menghadapi kekuasaan,” terangnya.

Memasuki usia 32 tahun, Nany mengingatkan bahwa perjuangan mempertahankan demokrasi dan kebebasan pers belum selesai. Menurutnya, kebebasan pers tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang permanen meskipun Indonesia telah memasuki era Reformasi.

Nany mengakui banyak jurnalis saat ini menghadapi kelelahan, frustrasi, ketakutan hingga ketidakpastian mengenai masa depan profesinya. Namun, dia meminta kondisi tersebut tidak membuat jurnalis kehilangan keyakinan terhadap prinsip-prinsip jurnalistik. “Kita tidak harus menjadi jurnalis yang sempurna, tapi kita harus menjadi jurnalis yang berani mempertahankan prinsip,” tegsnya.

Dia juga meminta seluruh anggota AJI memperkuat solidaritas terhadap jurnalis yang kehilangan pekerjaan maupun mengalami kekerasan. Kemudian dia meminta agar tidak ada seorangpun jurnalis kehilangan pekerjaan, mengalami kekerasan, dan di saat yang sama merasa sendirian. Begitulah fungsi AJI, dan organisasi kita,” kata Nany.

Martabat jurnalis ditentukan oleh keberanian untuk tetap bekerja secara independen. Kebebasan pers bukan hadiah untuk jurnalis. Kebebasan pers adalah hak publik, jurnalis hanya menjalankan mandat tersebut.

Nany mengingatkan pemerintah bahwa kritik dan kerja jurnalistik tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman. Jurnalis bukan musuh negara. Jurnalis bukan makar. Kritik bukanlah hal yang berat, pertanyaan bukanlah penghinaan, investigasi bukanlah provokasi.

Nany menambahkan, berita yang tidak menyenangkan pemerintah tidak serta-merta berarti berita tersebut salah. Justru, kata dia, demokrasi diuji ketika kekuasaan mampu mendengar sesuatu yang tidak ingin didengarnya. 
“Sebagai perisai terakhir demokrasi, itu adalah tugas jurnalis,” pungkasnya.

(AJ/MIN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250