METROINDONEWS.COM, PURWAKARTA – Mengalami kejadian tragis, disebutkan ahli waris dari Sumarna (42), petugas satuan pengamanan Waduk Jatiluhur yang ditemukan tewas terborgol. Menerima hak ketenagakerjaan dan santunan sebesar Rp 418.133.773 di Kabupaten Purwakarta, dikutif pada Jum’at (31/7).
Penyerahan manfaat jaminan sosial dan beasiswa pendidikan tersebut diserahkan langsung oleh Direktur Utama Perum Jasa Tirta II (PJT II) Imam Santoso bersama Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Purwakarta. Bantuan ini diberikan sebagai bentuk penjaminan keberlangsungan hidup keluarga korban.
Menurut Direktur Utama PJT II Imam Santoso, pemenuhan hak-hak almarhum merupakan bentuk penghormatan perusahaan atas pengabdian dan kontribusi korban selama bertugas di kawasan objek vital tersebut.
“Tentu setiap insan yang telah mengabdikan dirinya kepada perusahaan memiliki arti yang sangat berharga”. Maka apa yang kami serahkan hari ini merupakan bentuk penghormatan atas dedikasi dan pengabdian almarhum Sumarna selama menjadi bagian dari keluarga besar Perum Jasa Tirta II.
Jasa almarhum akan selalu menjadi bagian dari perjalanan perusahaan,” kata Imam lewat keterangan pers.
PJT II juga menyalurkan santunan tambahan beserta fasilitas beasiswa pendidikan untuk putra-putri almarhum demi meringankan beban ekonomi keluarga yang ditinggalkan.
“Sehingga kami berharap, apa yang telah di serahkan hari ini dapat meringankan beban keluarga dan memberikan harapan bagi masa depan putra-putri almarhum”. Kepedulian kepada insan perusahaan tidak berhenti pada masa pengabdian. Tetapi diwujudkan juga melalui perhatian kepada keluarga yang ditinggalkan,” ujar Imam.
Kepolisian Resor Purwakarta masih melanjutkan penyelidikan guna mengusut penyebab kematian Sumarna yang jasadnya ditemukan sepekan lalu. Dalam kondisi tangan terborgol. Penyidik menghadapi beberapa kendala di lapangan, di antaranya minimnya saksi mata serta keterbatasan rekaman kamera pengawas (CCTV) di area tempat kejadian perkara.
Kasatreskrim Polres Purwakarta AKP I Made Purwantara mengungkapkan insiden tersebut diperkirakan berlangsung pada dini hari saat situasi lingkungan sekitar sedang sepi.
“Kendala-kendala mungkin terkait dengan adanya CCTV di TKP, kemudian waktu juga pada saat dini hari. Keberadaan saksi juga mungkin pada saat kejadian nihil, karena jam tidur,” paparnya.
Namun, pihak kepolisian telah mengumpulkan keterangan dari 15 orang saksi yang mencakup pihak keluarga, rekan kerja, dan warga sekitar. Dalam hal tersebut, polisi turut menjadwalkan olah TKP lanjutan untuk menganalisis data CCTV yang telah diamankan.
Untuk itu, Kami mohon dukungannya dari masyarakat Jawa Barat, khususnya Purwakarta. Mengingat, kami masih melakukan pendalaman terhadap saksi-saksi yang ada di lapangan. Disamping itu juga kami telah melakukan olah TKP ulang terkait dengan CCTV-CCTV yang sudah kami backup datanya,” tandas Made.
(MN/RD/RS)














