METROINDONEWS.COM, JAKARTA Butuh penegasan dan kejelasan, Ketua Majelis Syura Partai Ummat, Amien Rais, kembali mempersoalkan Presiden ke-7 RI Jokowi. Dengan menyinggung berbagai kebijakannya selama menjabat.
Bukan hanya itu, Amien juga mengaitkannya dengan polemik ijazah yang kini bergulir di pengadilan.
Dia bahkan menggunakan sebutan “Mukidi” saat menyampaikan kritiknya terhadap mantan kepala negara tersebut.
Dengan blak-blakan, Amien menyebut Jokowi sebagai bagian dari pemimpin yang zalim selama memimpin Indonesia dua periode.
“Jokowi Presiden 2 Periode 20 Oktober 2014 sampai 20 Oktober 2024 termasuk rombongan pemimpin zalim di muka bumi,” tegas Amien.
Dia kemudian mengaitkan kepemimpinan Jokowi dengan sejumlah persoalan yang menurutnya terjadi selama dua periode pemerintahan.
Nah Jokowi alias Mukidi sukses menghancurkan Polri, mempermudah penguasaan asing atas sumber daya alam. Menjadikan Indonesia sebagai negara subordinat di bawah RRT Republik Rakyat Tiongkok,” beber Amien.
“Bahkan menjadikan Indonesia sebagai budak bagi para taipan, cukong, mafia, dan oligarki,” ucapnya.
Amien turut menyinggung gaya kepemimpinan Jokowi yang kerap tampil di tengah masyarakat.
“Nah di atas permukaan, Mukidi bersandiwara mengecoh rakyat Indonesia,” sebutnya.
Dia menerangkan, bahwa Jokowi kerap membungkus dirinya dengan kesederhanaan saat blusukan ke pasar hingga bersentuhan langsung dengan rakyat kecil.
“Tetapi yang dilalui Mukidi itu bukan rakyat, tetapi taipan, cukong, dan mafia,” ungkapnya.
Selain mengkritik pemerintahan Jokowi, Amien juga menyinggung kondisi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dikutif pada Saptu (4/7). “Mukidi berhasil menaklukkan KPK dan sekaligus melemahkan KPK”. Sehingga mengharap KPK berani memanggil para koruptor besar yang punya kedekatan dengan Mukidi. Hal tersebut merupakan sebuah kemustahilan,” jelasnya.
Amien kemudian kembali mengaitkan Jokowi dengan polemik ijazah yang saat ini menjadi perkara di pengadilan.
“Bila kita pikir sedikit dalam, Mukidi yang menjadi presiden dua periode jatuh tergelincir gara-gara selembar kertas bernama ijazah palsu,” simpulnya.
Dia juga menyinggung agenda persidangan yang akan berlangsung pada Juli 2026.
“Jadi hari-hari mendatang di bulan Juli tahun ini, tahun 2026, rakyat Indonesia Insya Allah bisa menikmati tontonan yang tak kalah menarik dengan Pildun atau World Cup 2026.
“Ya ini tontonan Mukidi akan menunjukkan ijazah palsunya di pengadilan negeri di wilayah DKI,” kata mantan Politikus PAN tersebut.
Tidak berhenti di situ, Amien meminta Jokowi hadir langsung dalam persidangan dan membawa dokumen pendidikan yang disebutnya asli.
“Nah jadi Mas Mukidi, sekali ini jangan mingger, jangan melincur, jangan sembunyi, jangan alasan sakit,” tegasnya.
Dia meminta, Jokowi tidak boleh hanya hadir melalui sambungan virtual, namun betul-betul hadir di lokasi persidangan.
Jangan lupa bawa ijazah SD, SMP, SMA, dan S1 yang asli. Jangan berdalih, ijazah-ijazah itu sampai minggu lalu masih tersimpan rapi di lemari. Tapi sekarang sudah hilang karena dicuri tuyul,” pungkasnya.
(FJ/TR)














