METROINDONEWS.COM, JAKARTA – Gerak lambat pertumbuhan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami defisit sebesar Rp 31,3 triliun dalam dua bulan pertama tahun 2025. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti rendahnya penerimaan pajak sebagai penyebab utama defisit tersebut.
“Berdasarkan data Kementerian Keuangan, pendapatan negara hingga Februari 2025 tercatat sebesar Rp 316,9 triliun”. Sementara dari jumlah tersebut, penerimaan pajak hanya mencapai Rp 187,8 triliun atau sekitar 8,6% dari target tahunan.
Selain itu, penerimaan dari bea cukai tercatat Rp 52,6 triliun.
Kinerja penerimaan pajak masih di bawah ekspektasi, sedangkan belanja negara terus meningkat. Hal tersebut mengakibatkan defisit anggaran yang perlu diwaspadai,” ungkap Sri Mulyani dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (22/3).
Penurunan pendapatan negara mencapai 20,85% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kendati demikian para ekonom memperingatkan bahwa jika kondisi ini terus berlanjut, defisit APBN bisa melebar dan berpotensi mengganggu stabilitas fiskal.
Untuk mengatasi defisit ini, pemerintah berencana meningkatkan efektivitas kebijakan perpajakan dan mengoptimalkan penerimaan negara. Sri Mulyani menegaskan reformasi pajak menjadi prioritas untuk menjaga keseimbangan keuangan negara di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Sementara itu, belanja negara tetap tinggi seiring dengan upaya pemerintah dalam mendukung program pembangunan dan bantuan sosial. Pemerintah berjanji akan terus memantau kondisi fiskal guna memastikan APBN tetap dalam batas aman.
Dengan defisit yang terus membayangi, pemerintah diharapkan mampu mencari strategi efektif. “Dalam tujuan meningkatkan penerimaan negara tanpa membebani masyarakat dan dunia usaha.
(KI/TR)