Gubernur NTT: Kasus Siswa SD Gantung Diri Pemerintah Lalai Melindungi Warga

METROINDONEWS.COM, NTT – Tragis dan mempermalukan sang penguasa, Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena, mengeluarkan kecaman keras terhadap Pemerintah Kabupaten Ngada. Menyusul kabar meninggalnya seorang siswa sekolah dasar yang diduga mengakhiri hidup akibat persoalan sederhana terkait buku dan bolpoin.

“Kekecewaan tersebut disampaikan Gubernur Melki saat memberikan sambutan pada acara peluncuran dan peresmian Fakultas Kedokteran Universitas Citra Bangsa (UCB) Kupang, Rabu (4/2).

Gubernur mengungkap bahwa hingga malam sebelumnya belum ada perwakilan Pemerintah Daerah Ngada yang datang melayat ke rumah duka.

“Tadi malam saya cek, belum ada satu pun perwakilan Pemda Ngada yang turun ke rumah duka”. Sungguh keterlaluan. Dalam kondisi seperti ini, kita benar-benar gagal sebagai pemerintah,” tegasnya.

Dia mengaku sangat terpukul dan merasa malu sebagai kepala daerah atas peristiwa tragis tersebut. Menurutnya, negara dan pemerintah daerah telah lalai menjalankan kewajiban melindungi warga, khususnya anak-anak.

“Saya malu sebagai gubernur, tidak seharusnya ada warga negara yang meninggal karena persoalan seperti ini”. Kalau sampai terjadi, berarti kita gagal mengurus rakyat kita sendiri,” cetusnya.

Gubernur mengatakan, kematian korban bukan disebabkan oleh persoalan sepele. Melainkan menjadi cerminan kemiskinan yang tidak tertangani dengan baik oleh sistem pemerintahan dan sosial.

“Di saat kita hidup nyaman, ada warga Indonesia dari NTT, tepatnya di Kabupaten Ngada, yang meninggal karena kemiskinan,” ujarnya.

Untuk memastikan kebenaran informasi tersebut, Gubernur Melki mengaku telah berupaya menghubungi langsung pimpinan daerah setempat. Namun, pesan yang dikirim tidak segera mendapat tanggapan.

“Saya sudah kirim pesan WhatsApp ke pimpinan daerahnya'”. Tetapi responnya sangat lama. Karena itu saya perintahkan tim saya untuk turun langsung ke lapangan.

Melki menilai peristiwa ini sebagai kegagalan kolektif, tidak hanya pemerintah, tetapi juga institusi sosial dan keagamaan.
“Pranata agama gagal, pranata sosial gagal, pemerintahan juga gagal, sampai-sampai ada orang yang meninggal karena miskin,” tandasnya.

(NI/DM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250