Cerita  Kesedihan di Aceh Tamiang Masih Dilanda Keterbatasan Pangan

METROINDONEWS.COM, ACEH, “Ungkapan, kami bukan penonton tapi kami sedang berdoa untuk saudara di sana”. Dampak banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang tidak hanya menyisakan kerusakan fisik pada bangunan, tetapi juga guncangan mental yang mendalam bagi para penyintas, khususnya anak-anak. 

Kabupaten Aceh Tamiang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Aceh. Daerah tersebut hasil dari pemekaran Kabupaten Aceh Timur yang terletak di perbatasan Provinsi Aceh-Provinsi Sumatera Utara.

Kesedihan Kita Semua

“Menjawab kondisi krisis tersebut, Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menghadirkan layanan Psychological First Aid (PFA) di Desa Sekumur Kecamatan Sekerak Kab. Aceh Tamiang,
sejak Jumat (12/12) hingga Selasa, (16/12).

“Tim DMC Dompet Dhuafa fokus memberikan dukungan psikososial untuk memulihkan emosi negatif anak-anak yang mengalami trauma akibat bencana”. Mengingat kebutuhan akan pemulihan mental ini sangat mendesak.

Sementara menurut warga Desa Sekumur, Usnul Yakin, mengungkap perubahan drastis pada perilaku anaknya yang berusia delapan tahun. “Kedapat anak kerap melamun dengan tatapan kosong, menangis saat melihat reruntuhan rumah, hingga mengigau ketakutan saat tidur.
“Situasi tersebut diperparah dengan kondisi orang tua yang juga mengalami stres tinggi akibat keterbatasan pangan,” ujarnya.

Belum lagi istri saya sering membentak kalau anak saya minta makan. Namun dia memaklumi karena kita punya makanan yang terbatas, dan istri saya juga stress karena bencana ini,” kata Usnul.

Dia menceritakan perjuangannya berjalan kaki berkilo-kilometer ke Kuala Simpang hanya untuk membelikan jajanan. Karena bantuan logistik yang datang umumnya hanya berupa makanan pokok. Bukan makanan ringan yang bisa menghibur anak-anak.

Sebuah video yang beredar di media sosial mengungkap kondisi memprihatinkan warga di desa pedalaman Aceh Tamiang pascabanjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025 lalu.

Dalam unggahan akun TikTok @gracefie, Rabu (17/12) terlihat seorang pria lanjut usia yang merupakan warga Desa Juar Kecamatan Sekerak Aceh Tamiang. Dia mengaku hingga kini masih bertahan di desanya yang hancur akibat terjangan banjir bandang.

Dalam keterangan unggahan tersebut disebutkan bahwa warga setempat masih hidup dalam keterbatasan dan sangat membutuhkan perhatian serta bantuan dari berbagai pihak. Mereka masih bertahan dengan keterbatasan. Mohon perhatian dan uluran tangan,” dalam cuitan akun tersebut.

Kisah yang menyayat hati datang dari seorang ibu korban bencana banjir bandang di Aceh Tamiang, Provinsi Aceh.

“Tentu diketahui, Aceh Tamiang menjadi salah satu daerah terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi pada kahir November 2025 lalu”.

Kini, seorang ibu yang menjadi korban banjir bandang di Aceh Tamiang menceritakan perjuangan pahit keluarganya bertahan hidup pascabencana.

Dia harus bertahan hidup tanpa setetes air bersih maupun makanan selama tiga hari tiga malam akibat terisolasi banjir. Kisah pilu tersebut dibagikan oleh akun TikTok @zaits_bf, Selasa (16/12).

Dalam unggahan tersebut, tampak sang ibu mengungkapkan rasa pedih yang mendalam atas situasi sulit yang menimpanya.
Ketiadaan akses air bersih menjadi beban terberat yang harus dia rasakan selama berhari-hari.

Sementara di akun medsos yang lain @indra_ksm72, Kamis (18/12), menyampaikan bela sungkawa yang dalam terhadap semua saudara yang tertimpa musibah baik di Aceh, Padang dan Medan.

“Tak lain agar warga terdampak musibah dapat segera ditangani dengan baik oleh pemerintah pusat dan daerah”. Karena selain merupakan saudara kita mereka adalah rakyat Indonesia, tulis akun tersebut.

(IL/GP/TR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250