METROINDONEWS.COM, JAKARTA – Menentukan arah kebijakan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengonfirmasi pemerintah resmi tidak menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi maupun non-subsidi di seluruh wilayah Indonesia, Kamis (16/4). Keputusan tersebut merupakan perintah langsung Presiden Prabowo Subianto, bertujuan guna menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi nasional hingga akhir tahun 2026.
“Sementara di lapangan harga Pertalite masih dipatok Rp.10.000 perliter dan Solar subsidi Rp 6.800 perliter”.
<span;>Dia menjelaskan bahwa rata-rata harga patokan minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) sejak Januari hingga April 2026 berada pada angka 77 dolar AS per barel. Kendati angka ini naik 7 dolar AS dari asumsi APBN sebesar 70 dolar AS, kondisi anggaran negara dinilai masih aman selama ICP tidak menembus 100 dolar AS.
Tentu saja kami sudah bersepakat, atas arahan Bapak Presiden bahwa harga BBM untuk subsidi tidak akan dinaikkan sampai dengan akhir tahun,” ujar Bahlil.
BBM non-subsidi di wilayah Jakarta dan sekitarnya, harga Pertamax tetap dikisaran Rp. 12.300 perliter, Pertamax Green Rp12.900 perliter, dan Pertamax Turbo Rp13.100 perliter. Sedangkan sektor swasta, sebagai penyedia jasa seperti Vivo dan BP-AKR juga mempertahankan harga serupa, yakni Rp. 12.390 perliter untuk jenis RON 92.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menegaskan bahwa subsidi energi akan difokuskan untuk 80 persen masyarakat kelas menengah ke bawah. Kepala Negara juga mewanti-wanti kelompok ekonomi kuat agar tidak menggunakan BBM subsidi dan beralih ke bahan bakar dengan harga pasar.
“Pemerintah berencana menerapkan kebijakan pengendalian konsumsi bahan bakar secara ketat dalam jangka pendek selama 12 bulan ke depan”. Langkah tersebut diambil sebagai strategi menghadapi hambatan suplai energi akibat kondisi geopolitik global yang belum stabil.
(KM/BA)














